Kopi Kuningan Tembus Panggung Dunia

Kopi Kuningan Tembus Panggung Dunia
POTENSI. Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar menghadiri agenda panen bersama di Kebun Kopi Blok Pasir Batang, Desa Karangsari Kecamatan Darma, Minggu (19/4). Foto: Istimewa.
0 Komentar

RAKYATKUNINGAN.COM, KUNINGAN – Pemerintah Kabupaten Kuningan kian serius mendorong kopi sebagai komoditas unggulan daerah.

Momentum itu terlihat dalam kegiatan panen bersama di Kebun Kopi Blok Pasir Batang, Desa Karangsari, Kecamatan Darma, Minggu (19/4), sekaligus menjadi penegasan arah kebijakan kopi Kuningan menembus pasar global.

Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar, menegaskan bahwa kualitas kopi lokal tak lagi sekadar wacana.

Baca Juga:Pembangunan KDMP Bojong Capai 30 PersenDisporapar Petakan Potensi Buper Batu Lamar 

Kopi asal Karangsari bahkan telah lolos kurasi untuk tampil di pameran internasional di Thailand dan dijadwalkan kembali ambil bagian dalam ajang World of Coffee 2026 di Bangkok pada 7–9 Mei mendatang, setelah sebelumnya tampil di edisi 2025 di Jakarta.

“Ini bukan sekadar keikutsertaan, tapi pernyataan bahwa kopi Kuningan siap bersaing di panggung dunia,” tegasnya.

Di hadapan petani dan pemangku kepentingan, Bupati menyoroti pentingnya menjaga kualitas dari hulu ke hilir.

Ia mengingatkan agar petani disiplin dalam proses panen dengan hanya memetik buah yang matang, serta memastikan pengolahan dilakukan secara bersih demi menjaga cita rasa.

Menurutnya, kopi tak hanya soal komoditas ekonomi, tetapi juga bagian dari ekosistem kreativitas yang mampu menggerakkan inovasi masyarakat.

Karena itu, kejujuran dalam pemasaran dan promosi menjadi fondasi penting untuk membangun kepercayaan pasar.

“Kesuksesan bukan semata bakat, tapi kerja keras dan kolaborasi. Potensi kopi Kuningan besar, tinggal dijaga kualitasnya, ditingkatkan produksinya, dan diperluas pasarnya,” ujarnya.

Baca Juga:Dorong Stabilitas Harga Lewat Bazar SayurCalon Ketua Mengerucut 2 Kandidat

Sementara itu, penanggung jawab Merta Kopi Karangsari, Dede Rokanda, mengungkapkan bahwa perkembangan kopi di wilayahnya berawal dari inisiatif pemuda saat pandemi, yang kemudian berkembang menjadi kelompok tani hingga koperasi.

Sinergi dengan pemerintah dan dukungan berbagai pihak, termasuk Bank Indonesia, dinilai menjadi faktor kunci pertumbuhan tersebut.

Namun, dia tak menampik adanya tantangan. Keterbatasan produksi masih menjadi kendala utama di tengah meningkatnya permintaan pasar. Karena itu, perluasan lahan dan penguatan kapasitas petani dinilai mendesak.

“Sekarang tantangannya bukan lagi pasar, tapi bagaimana produksi bisa memenuhi permintaan,” katanya.

Data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan menunjukkan tren positif. Pada 2025, kopi robusta dari lahan sekitar 1.500 hektare menghasilkan 1.173 ton.

0 Komentar