RAKYATKUNINGAN.COM, KUNINGAN – Di tengah suasana hangat bulan Syawal, sebuah momentum istimewa tercipta di pelosok Kabupaten Kuningan. Bupati Kuningan, DR H Dian Rachmat Yanuar MSi memberikan penegasan penting mengenai arah pembangunan daerah yang ideal.
Menurutnya, fondasi paling kokoh dalam mengakselerasi kemajuan wilayah bukanlah sekadar ketersediaan anggaran, melainkan tingginya rasa kekompakan dan kepedulian sosial yang tumbuh subur di akar rumput.
Pernyataan tersebut disampaikan bupati saat menghadiri gelaran Reuni Akbar Bhonet (Bhocah Nekat) lintas generasi yang dihelat di halaman Balai Desa Baok Kecamatan Ciwaru, Selasa (24/3).
Baca Juga:Bantu Warga Jelang Lebaran, Koramil Cilimus Gelar Pangan Murah dan Bagi TakjilPanaskan Mesin! PKB Kuningan Konsolidasi di 32 Kecamatan, Incar 10 Kursi DPRD
Acara tetsebut merangkaikan tradisi Halal Bihalal Idul Fitri 1 Syawal 1447 H, santunan bagi anak yatim, hingga panggung hiburan rakyat yang menyatukan seluruh elemen masyarakat.
Kegiatan yang dimotori oleh Karang Taruna Bina Muda (Sub Bhonet) Desa Baok ini menjadi bukti nyata bagaimana kolaborasi lintas usia dapat membuahkan manfaat konkret. Bupati menyatakan kekagumannya atas konsistensi semangat gotong royong warga Desa Baok yang tidak luntur dimakan zaman.
“Apa yang kita saksikan hari ini bukan sekadar reuni biasa. Ini adalah manifestasi energi sosial yang luar biasa. Saya melihat langsung bagaimana kebersamaan ini mampu bertransformasi menjadi manfaat yang menyentuh masyarakat kecil.
Jika spirit kolektif seperti ini mampu bersemi di setiap desa di Kuningan, maka percepatan pembangunan di kabupaten kita akan melaju jauh lebih cepat,” ungkap Dian.
Dalam kesempatan tersebut, bupati juga menekankan visi pembangunannya yang humanis. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan seorang kepala daerah tidak hanya diukur dari panjangnya aspal jalan atau megahnya gedung perkantoran, melainkan dari “pembangunan jiwa” dan kebahagiaan warganya.
“Infrastruktur fisik seperti jalan dan jembatan memang vital, namun yang jauh lebih fundamental adalah bagaimana kita merawat nilai-nilai sosial, kepedulian, dan rasa memiliki antar sesama. Desa yang mandiri secara sosial akan menjadi tulang punggung bagi pembangunan berkelanjutan yang sesungguhnya,” tegasnya.
Bupati memandang bahwa aksi berbagi kepada anak yatim dan kaum duafa di tengah hiruk-pikuk hiburan rakyat adalah bentuk keseimbangan moral yang patut dicontoh. Hal ini merupakan refleksi dari nilai-nilai luhur Ramadan yang diimplementasikan dalam aksi nyata di lapangan.
