Ketidaksamaan waktu panen raya antarwilayah ini dianggap sebagai strategi alami untuk mencegah penumpukan stok yang berlebihan dalam satu waktu (oversupply) yang bisa menjatuhkan harga di tingkat petani.
“Panen yang tidak serempak ini justru membuat distribusi beras lebih merata sepanjang waktu. Saat stok nasional mulai menipis di awal tahun, Kuningan masuk mengisi celah tersebut.
Nanti, ketika masa panen di Kuningan mulai melandai, wilayah Pantura akan mengambil alih sebagai penopang di fase puncak. Ini adalah ekosistem yang sehat untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan,” pungkas Wahyu.
